Kamis, 21 Juni 2018

Dewi Lestari Lakukan Riset dari Bantar Gebang ke Singapura

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penulis Dewi Lestari meluncurkan novel terbarunya berjudul Aroma Karsa di Le Seminyak, Cipete Jakarta Selatan. Rabu, 14 Maret 2018 (TEMPO/Aisha Shaidra)

    Penulis Dewi Lestari meluncurkan novel terbarunya berjudul Aroma Karsa di Le Seminyak, Cipete Jakarta Selatan. Rabu, 14 Maret 2018 (TEMPO/Aisha Shaidra)

    TEMPO.CO, Jakarta -Dua hari lagi, novel terbaru Dewi Lestari akan dirilis. Sebelumnya, buku berjudul  Aroma Karsa ini sudah lebih dulu menemui pembacanya melalui format digital yang dijual dalam bentuk cerita bersambung. Dee, menuturkan karya terbarunya ini merupakan karya yang membuatnya mengulik sisi lebih dalam terkait indra penciuman.

    Baca: Lewat Aroma Karsa, Dewi Lestari Angkat Tema yang Jarang Disentuh

    “Fiksi yang selama ini saya baca jarang mengungkapkan sesuatu dari penciuman. Membuat saya tertantang bikin karya dengan tema sentral penciuman. Dan bagaimana efeknya ke pembaca,” ttur Dewi Lestari saat konferensi pers peluncuran Aroma Karsa di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Rabu, 14 Maret 2018.

    Banyak hal baru dilakukan Dee untuk menggarap tema yang menurutnya masih jarang ia temukan dalam karya fiksi ini. Banyak riset dilakukan sebelum dan sambil menulis cerita. Berikut beberapa proses riset yang dilakukan Dee untuk melengkapi kisah Jati Wesi dan Tanaya Suma ini.

    1. Dee sengaja terbang ke Singapura untuk melakukan kursus meracik parfum di Nose Who Knows. Ia menjalani kursus dasar selama satu hari penuh.
    2. Dee berkunjung ke Bantar Gebang untuk mengeksplorasi kehidupan pemulung sampah, mengeksplorasi kehidupan di kawasan pembuangan sampah, serta menghidu aroma tempat pembuangan akhir.
    3. Dee meriset jalur tengah Gunung Lawu. Jalur yang lebih banyak digunakan masyarakat untuk berziarah. Ia pun sempat menemui dan mewawancara juru kunci Gunung Lawu.
    4. Selain mengikuti kursus meracik parfum, Dee pun menemui Darwyn Tse—parfum artisan—untuk mendalami soal peracikan parfum
    5. Dee menemui beberapa tokoh akademisi seperti Dr. Ninie Susanti dan Dwi Puspitorini untuk mendalami bahasa Jawa kuno, epigrafi Majapahit. Serta Vincent Luhur seorang kolektor anggrek untuk melengkapi pengetahuan tentang detail anggrek, dan pembalap Ananda Mikola untuk mendetailkan kebutuhan karakter pembalap dalam ceritanya.

    Riset menurut Dee adalah satu bagian penting guna menganyam ‘fakta ke dalam fiksi’. Hal ini menurutnya punya efek kuat terhadap para pembaca saat menikmati karyanya.

    Sebelumnya Dee mengatakan, riset Aroma Karsa kebetulan memang melibatkan banyak bidang karena kebutuhan ceritanya demikian. “Riset saya bergantung plot. Di Aroma Karsa, sesuai plotnya, saya perlu ke beberapa tempat yang menjadi kanvas penting dalam cerita, seperti pabrik kosmetik, Bantar Gebang, dan Gunung Lawu. Saya juga perlu referensi untuk berbagai profesi, seperti peracik parfum, pembalap, kolektor anggrek, dan lainnya.”

    Secara keseluruhan, proses penulisan Aroma Karsa menurut Dewi Lestari tidak jauh berbeda dengan bagaimana menggarap buku-buku sebelumnya. Seperti Supernova. Hanya saja, pada Aroma Karsa ini ibu dua anak ini lebih ‘niat’ untuk membuat dokumentasi lebih rinci terkait proses risetnya. “Selama ini cara saya meriset menjadi hal yang paling sering ditanyakan oleh pembaca, mereka ingin tahu caranya, prosesnya bagaimana.”

    Hal ini menurut Dewi Lestari turut jadi edukasi bagi publik tentang bagaimana profesi penulis dan bagaimana proses kreatif di balik sebuah tulisan.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Hadiah Juara Piala Dunia Terus Melonjak

    Sejak digelar pada 1982, hadiah uang tunai untuk tim pemenang Piala Dunia terus meningkat. Berikut jumlah duit yang diterima para jawara global ini.