Minggu, 16 Desember 2018

Alasan Gabriel Garcia Marquez Selalu Menekankan Dirinya Wartawan

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Halaman depan sebuah koran mengumumkan kematian peraih   Nobel sastra 1982 Gabriel Garcia Marquez, di Cali, departemen Valle del Cauca, Kolombia (17/4). Marquez yang juga seorang jurnalis dan aktivis politik Kolombia, wafat di usia 87 tahun. (Luis Robayo/Getty Images)

    Halaman depan sebuah koran mengumumkan kematian peraih Nobel sastra 1982 Gabriel Garcia Marquez, di Cali, departemen Valle del Cauca, Kolombia (17/4). Marquez yang juga seorang jurnalis dan aktivis politik Kolombia, wafat di usia 87 tahun. (Luis Robayo/Getty Images)

    TEMPO.CO, Jakarta -Gabriel Garcia Marquez merupakan sastrawan asal Kolombia yang pernah meraih nobel sastra. Ia dikenal dengan karya One Hundred Years of Solitude pada 1967 juga karya Love in the Time of Cholera yang terbit 18 tahun kemudian. Novel yang disebut belakangan menjadi novel best seller, terjual lebih dari 30 juta kopi, dan pernah diangkat ke layar lebar. Karya ini juga yang menginspirasi film Serendipity dan akhir cerita serial populer How I Met Your Mother.

    Baca: Gabriel Garcia Marquez dan Mocondo dalam Goodle Doodle Hari Ini

    Tahun 1982, Gabriel Garcia Marquez memenangkan Nobel untuk bidang literatur seperti novel dan cerita pendeknya. Marquez adalah orang Kolombia pertama dan orang Amerika latin keempat yang mendapat anugerah tersebut.

    Suami Mercedes Barcha ini dianggap memperkenalkan genre literatur baru yaitu realisme magis. Genre ini menggabungkan fantasi dan realita yang disusun dengan kaya dalam dunia imaginasi.

    Marquez kerap disebut sebagai penulis berbahasa Spanyol paling signifikan sejak Miguel de Cervantes, penulis Don Quixote. Bagaimanapun, pria yang memulai kariernya sebagai jurnalis ini tak pernah melupakan dunia jurnalisme. Dia pernah berkata kepada The Paris Review. "Saya selalu yakin bahwa profesi saya sebenarnya adalah jurnalis," ujarnya.

    Kepada kantor berita Associated Press,  Marquez mengatakan 'saya seorang jurnalis, saya selalu menjadi jurnalis'. "Buku-buku saya tidak mungkin ditulis jika saya bukan seorang jurnalis karena semua materi diambil dari kenyataan,'' tutur dia.

    Sebelum terjun di dunia jurnalistik, Marquez sempat belajar hukum tapi tidak pernah mendapat gelar. Dia lalu memilih jurnalisme di El Espectador. Gabriel Garcia Marquez Selalu ingin tetap dekat dengan dunia nyata Ia seorang jurnalis yang menulis fiksi. Leaf Storm, novella pertamanya, ditulis pada tahun 1955, saat ia baru berusia 27 tahun.

    Bersama Norman Mailer dan Tom Wolfe, Gabriel Garcia Marquez adalah pelaku awal penulisan nonfiksi sastra yang kemudian dikenal sebagai New Journalism.

    Jejak jurnalisme sastrawi Gabriel Garcia Marquez berupa karya-karya seperti Story of A Shipwrecked Sailor,  bertutur tentang kehidupan pelaut yang bertahan hidup selama 10 hari terombang-ambing di lautan. Sedang karya sastranya, Chronicle of a Death Foretold, Love in the Time of Cholera, dan Autumn of the Patriarch termasuk karyanya yang mengalami penjualan terlaris dalam bahasa Spanyol, selain Injil. Novel epik yang dia tulis pada 1967, One Hundred Years of Solitude terjual lebih dari 50 juta kopi dan diterjemahkan lebih dari 25 bahasa.

    ARSIP TEMPO | BERBAGAI SUMBER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".