Minggu, 27 Mei 2018

Randy Pangalila Enggan Punya Istri Petarung, Kenapa?

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktor Randy Pangalila baru-baru ini menjadi perbincangan. Bukan karena perannya di film terbaru, namun lantaran sosoknya yang kalem menjelma menjadi garang di ring oktagon, ajang tarung bebas (MMA). Bahkan, ia membuat gebrakan di ajang tarung bebas tersebut dengan kemampuannya menjatuhkan lawan dalam waktu hanya 39 detik. Instagram.com

    Aktor Randy Pangalila baru-baru ini menjadi perbincangan. Bukan karena perannya di film terbaru, namun lantaran sosoknya yang kalem menjelma menjadi garang di ring oktagon, ajang tarung bebas (MMA). Bahkan, ia membuat gebrakan di ajang tarung bebas tersebut dengan kemampuannya menjatuhkan lawan dalam waktu hanya 39 detik. Instagram.com

    TEMPO.CO, Jakarta -Aktor Randy Pangalila mengaku kagum dengan petarung wanita. Alasannya, sebagai wanita, mereka tetap bisa melakukan apa yang mereka suka, yaitu Mix Martial Art (MMA) atau bela diri.

    "Salut gua dengan orang seperti itu," ujar Randy saat dihubungi Tempo, Senin, 12 Februari 2018.

    Meskipun kagum dan salut dengan para petarung wanita, pria berusia 27 tahun itu tidak ingin mencari pasangan hidup yang memiliki hobi serupa dengannya. “Kayaknya gua yang normal-normal aja deh,” kata Randy.

    Randy mengatakan bila memiliki pasangan yang memiliki hobi serupa ketika bertengkar akan repot. “Nanti kita malah ribut dikit langsung Brazilian Jujitsu barengan lagi, kunci-kuncian leher, berabe kan,” katanya bergurau.

    Randy Pangalila berharap bisa mendapatkan pasangan yang mendukung passion-nya di dunia martial art. “Pasangan yang enggak melarang-larang gua, kayak engga boleh tanding,” tutur Randy. Ia tidak ingin memiliki pasangan yang membuatnya tidak merasa hidup.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits

    Pada 17 Mei 2018, dua mahasiswi Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, menyelesaikan Seven Summits.