Minggu, 27 Mei 2018

Kaleidoskop 2017: Momen Bangkitnya Film Horor Indonesia?

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua film horor di tahun 2017 yang sukses mendapat angka penonton tertinggi

    Dua film horor di tahun 2017 yang sukses mendapat angka penonton tertinggi

    TEMPO.CO, Jakarta -Jika di tahun 2016 hal yang menarik dari perfilman Indonesia adalah meningkatnya perolehan angka penonton yang bisa mencapai jutaan. Maka tahun 2017 bisa dibilang adalah momen bagi perfilman Indonesia khususnya para sineas muda yang berani menyuguhkan perspektif baru nan segar, mengangkat kisah di luar mainstream.

    Tahun ini pula, film horor Indonesia memiliki sorotan salah satunya berkat upaya beberapa sineasnya yang coba mematahkan mitos yang selama ini erat dengan film horor. Yakni kerap seksis, dengan judul bombastis, menyajikan penampakan hantu tanpa banyak perhitungan, asal bisa mengagetkan. Jalan ceritanya? Jangan tanya, kerap tak masuk logika mungkin dengan alasan namanya juga film setan.

    Baca: Duka dan Skandal Artis Korea 2017

    Kaleidoskop 2017: Artis Tanah Air yang Banyak Dibicarakan dan Diberitakan

    Tidak demikian dengan beberapa film horor yang muncul tahun 2017. Danur, mulanya sempat menduduki posisi perolehan penonton tertinggi. Diangkat dari buku, film ini menyorot soal kehidupan seorang gadis yang punya pengalaman bisa melihat dan berkawan dengan roh halus. Atau pengabdi Setan karya Joko Anwar yang berhasil menunjukkan sebuah tuturan baru dan gaya eksekusi sebuah film horor yang tak asal jadi.

    Sutradara film Danur I Can See Ghost, Awi Suryadi dalam sebuah wawancara dengan Tempo beberapa waktu lalu mengungkapkan mengapa filmnya bisa tembus jutaan penonton. Meski film horor, Danur menurut Awi masih memenuhi unsur pemenuh film sebagai sebuah hiburan. “Penonton harus bisa dibuat terhibur, cerita boleh saja biasa, tapi tontonan yang sangat menghiburnya harus tinggi,” ujar Awi kepada Tempo beberapa waktu lalu.

    Dalam menggarap film Danur, Awi bersabar untuk tak buru-buru menghadirkan penampakan hantu, atau mengagetkan penonton dalam hitungan menit. “Saya lebih sabar untuk menentukan jump scare-nya, tak sering menghadirkan setan membuat penonton pun tak mudah menebak kapan hantunya akan keluar,” ujar Awi.

    Menurut Awi, penting juga memilih latar suara yang tepat dan tak sekadar membuat kaget dan mencekam tanpa alasan. Cara yang diterapkannya saat membuat Danur dianggap cukup sukses meski menurutnya tidak ada formula pasti dalam menggarap sebuah cerita horor yang ideal. “Intinya tetap pada menghibur. Saya membuat film tapi saya juga menempatkan diri sebagai penonton, apakah saat menonton saya merasa terhibur?” tutur Awi.

    Memperlakukan film horor semestinya sama saja seperti memperlakukan film lainnya. Setidaknya itulah yang dilakukan Joko Anwar saat mewujudkan film Pengabdi Setan, sebuah film yang ia cita-citakan sejak dulu. Konon film ini yang mendorong dirinya untuk menjadi seorang sutradara. Terbayang betapa besarnya pengaruh sebuah film horor jika memang bisa memberikan pengalaman tertentu bagi penontonnya, bukan?

    Joko Anwar melihat film horor Indonesia saat ini mengalami banyak perubahan. Tak lagi hanya menyajikan tontonan penuh kekagetan lantaran penampakan yang muncul tiap menit. Atau tak hanya menjual perempuan-perempuan seksi sebagai etalase di poster dan adegan-adegan horor.

     “Tahun ini dan tahun lalu dari jumlah enggak jauh berbeda, tapi tahun ini lebih notable,” tutur Joko saat ditemui Tempo di kawasan Kemang, Ahad, 17 September 2017.

    Ia melanjutkan, beberapa tahun lalu film horor sempat naik dan punya panggungnya sendiri. Tapi sayangnya banyak didominasi film yang gegabah. “Sekarang sudah banyak yang juga memikirkan segi cerita,” ujar Joko.

    Tahun ini Joko Anwar melihat ada upaya lebih dari para pembuat film horor untuk memproduksi film dengan respek. Hal itu menurutnya penting karena film horor sesungguhnya film yang paling jujur. “Di layar, film horor menyuguhkan cinematic experience kepada penonton.  Itulah yang menurut Joko menjadi nilai pembeda film horor dengan genre lain. Horor, kata Joko,  tak menyajikan pretensi, ia hadir dan disajikan apa adanya.

    Munculnya beberapa judul film horor yang dieksekusi dengan pola produksi yang baik turut dicoba oleh Billy Christian. Pria yang beberapa kali memproduksi film horor ini pun mengaku selalu mencoba memperlakukan film horor sama dengan film lainnya, tak menjadikannya anak kedua.

    Tahun 2017, Usai merilis Petak Umpet Minako, Billy Christian lanjut merilis film horor berikutnya, Mereka yang tak Kasat Mata. Di film ini ini Billy coba menawarkan perspektif lain dari sebuah film horor, yakni menekankan unsur drama yang lebih kuat. Billy menyodorkan tawaran soal seperti apa perasaan dan kehidupan seorang indigo serta bagaimana mereka diterima orang-orang di sekitarnya. “Saya ingin penonton berpikir bahwa hal seperti ini nyata adanya, tapi akhirnya terserah mereka mau percaya atau tidak,” tutur Billy.

    Film horor adalah medium sama halnya dengan film lainnya. Kehadiran beberapa judul film horor tahun ini dengan perolehan angka penonton menembus jutaan tentu memberi perspektif bahwa film horor tak akan pernah kehilangan penontonnya selama memang bisa memberikan tontonan yang segar tak seperti tahun-tahun sebelumnya.

    Sayangnya apa yang nampak saat ini menurut pengamat film, Adrian Jonathan Pasaribu, masih terlalu dini untuk menilai film horor naik kelas atau bangkit. “Masih perlu menunggu sampai beberapa tahun ke depan, karena sampelnya masih sangat sedikit,” tutur Adrian.

    Diakui, selama nyaris tak ada perhatian untuk memperlakukan film horor lebih serius dan memberi hormat dengan memberi peluang terhadap cerita-cerita yang lebih baik, membuka kemungkinan terhadap cara bertutur, dan kekuatan teknis serta artistik lebih optimal. “Selama ini kita memang sudah enggak adil. Dalam artian satu genre itu keburu dicemari sejumlah film yang sebetulnya tak mewakili semua yang ada di bawah genre tersebut,” ujar Adrian.

    Saat ini upaya memberikan ‘respect’ terhadap film horor mulai terlihat. Dari cara bertutur dan juga proses produksi yang lebih serius. Namun menurut Adrian, jangan sampai kelak saat horor sedang kembali naik daun, semuanya kembali hanya pada upaya memenuhi permintaan dan kembali mengabaikan yang namanya buat film horor asal bisa bikin takut, cepat masuk bioskop, dapat banyak penonton, dan cepat balik modal.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits

    Pada 17 Mei 2018, dua mahasiswi Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, menyelesaikan Seven Summits.