Rabu, 19 September 2018

Matter's Matter, Menikmati Bulan dengan Keindahan yang Berbeda

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Male & Female, karya Radhinal Indra. Tempo/Fardi Bestari

    Male & Female, karya Radhinal Indra. Tempo/Fardi Bestari

    TEMPO.CO, Jakarta - Bayangkan jika kita melihat bulan purnama yang biasanya bulat, tiba-tiba berubah bentuk—terpelintir, atau bertonjolan seperti bisul yang mau pecah, bulan yang menyusut lalu kemudian mengembang dan pecah berkeping-keping. Tapi itu hanya tayangan  video berdurasi 2 menit 34 detik karya dari Radhinal Indra berjudul One Year Cycle.

    Ya, seniman muda kelahiran Bima ini ingin mengajak pengunjung di Ruci Artspace menikmati bulan dalam bentuk dan keindahan yang berbeda. Lihatlah juga bulan merah dalam Ferum Ferum Ferum, begitulah seniman muda Radhinal Indra memberi judul. Karya berupa bulatan sembilan lempengan metal berjejer. Sembilan lempengan ini sebagian dicat merah, sebagian lagi dilukis seperti permukaan sebuah bola benda angkasa, atau mungkin lebih mudahnya sebagai bulan. Sebagian lagi, lempengan itu ditekuk ke dalam. Sepintas seperti melihat gambaran ketika terjadi gerhana.

    Karya yang hampir serupa adalah On Being Flesh, dimana bulatan almunium berdiameter setengah meter. Tiga perempat bagiannya dicat seperti sebuah bola planet dengan hiasan nebula atau unsur material berwarna putih, sebagian lainnya-Radhinal menekuk  ke luar lepengan itu dan mewarnai dengan akrilik dominan merah dengan saputan putih.

    Baca: Film The Seen and Unseen jadi Film Remaja Terbaik di APSA 2017

    Radhinal juga mengeksplorasi karyanya dengan  dua bulatan lempeng alumunium yang dilukis seperti bulatan benda angkasa yang bertabur material putih dari dominasi warna biru. Uniknya, seniman lulusan Institut Teknologi Bandung ini memberikan identitas gender pada keduanya, seperti judulnya: Male& Female.Satu lempengan diberi seperti tanduk, lempengan yang lain diberikan dua tanda bulatan sejajar kiri kanan.

    Karya-karya Radhinal Indra Sofyan ini masih dipajang di bidang-bidang dinding di lantai dua Ruci Artspace sejak 27 Oktober-26 November 2017. Radhinal memamerkan karya dalam nuansa luar angkasa, seperti mengajak kita berkela dan belajar astrofisika dalam pameran berjudul Matter’s  Matter.

    Tumbuh dalam lingkungan keluarga akademis, ibunya seorang ahli matematika dan ayahnya di bidang ilmu sosial  rupanya mempengaruhi proses karyanya. Dalam lukisan  bernuansa sains ini. Dalam lukisan yang bernuansa ilmiah ini ia ingin menyampaikan pesan visual yang dieksplorasinya melalui eksplorasi medium pragmatis. Dia menggunakan  komposisi diagramatis sebagai cara untuk merumuskan dan menemukan keteraturan antara interaksi kompleks, antara budaya, alam, terutama benda astronomi.

    “Saya mencoba memahami sudut pandang budaya yang beragam mengenai bulan, apakah bulan diberi referensi melalui sains, bahasa, mitologi atau budaya populer,” ujar Radhinal.

    Baca: Cerita Chicco Jerikho Sering Dikira Penyanyi Ello

    Tak hanya dalam bentuk bulatan, Radhinal pun membuat karyanya dalam beberapa bentuk yang simetris dengan beragam goresan cat dan corak. Seperti kita mengenali lapisan demi lapisan dari lapisan sebuah benda angkasa. Ada yang seperti gumpalan, ada yang seperti serat-serat ada yang seperti tulang yang keropos dan sebagainya. Tetapi pada karya yang lain danmedium yang berbeda seperti medium kayu, seniman yang sudah kerap mengikuti berbagai pameran bersama ini juga menonjolkan keindahan karyanya.

    Telemicroscopic, karya Radhinal Indra

    Lalu apa hubungannya besar-jagad- yang kecil- tubuh manusia? Dalam pengantar kurasinya, Roy Voragen mengatakan Radhinal ini berbagai obsesinya dengan bahasanyanya: untuk mengakui kegembiraan di dalam apa yang kita belum tahu.

    Matter,kata Roy, tidak berbicara untuk dirinya sendiri, seniman ini  melakukannya dengan menawarkan interpretasinya. Dan saat menghubungkan yang besar dan yang kecil, yang tak terbatas tidak sengaja merupakan usaha spiritual namun bisa dianggap spiritual dalam arti kita bisa menerjemahkan kagum sebagai pengalaman spiritual.

    Menurut Roy, pameran secara keseluruhan membentuk rasi bintang total. dan dengan demikian pameran tersebut hadir untuk melambangkan simetri: bagian-bagian yang berbeda berkontribusi atau digabungkan secara keseluruhan. 


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Memecahkan Rekor Dunia di Berlin Marathon

    Eliud Kipchoge, pelari Kenya, memecahkan rekor dunia marathon dengan waktu 2 jam 1 menit dan 39 dalam di Marathon. Menggulingkan rekor Dennis Kimetto.