Kamis, 15 November 2018

Jejak Kata di Usia 80 LK Ara

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ine Hidayah dan LK Ara membaca puisi di Malam Sastra Aceh bertajuk 80 Tahun LK Ara di Jakarta Sabtu malam, 11 November 2017. Foto: Mustafa Ismail

    Ine Hidayah dan LK Ara membaca puisi di Malam Sastra Aceh bertajuk 80 Tahun LK Ara di Jakarta Sabtu malam, 11 November 2017. Foto: Mustafa Ismail

    TEMPO.CO, Jakarta - Suara perempuan itu melengking, jatuh pada meja-meja tamu yang mendadak hening dengan mata terkesima ke arah panggung. Asonansinya meliuk, dingin bagai Danau Laut Tawar, menerbangkan aroma gunung dari dataran tinggi Gayo. Di sebelahnya, seorang pria sepuh, matanya menerawang ke atas dan tangan digerak-gerakan.

    Baca: Lebih dari 20 Penyair Dijadwalkan Tadarus Puisi di Tempo

    Perempuan itu adalah Ine Hidayah dan Lelaki itu adalah sastrawan LK Ara. Ine, yang tak lain adalah isteri LK Ara, melantunkan sebuku, sebuah tradisi ratapan di Gayo, Aceh Tengah, dengan suara memukau. Adapun LK Ara melafalkan bait-bait puisi berjudul Takut, antara lain:

    Aku takut
    Setiap pagi
    Tak bisa memberikan apa-apa
    Setiap pagi
    Lihatlah
    Tubuhku tua
    Rantingku kering
    Daunku gugur
    Setiap hari
    Aku ikhlas

    Di Boulevard Aceh Coffee di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu malam lalu, 11 November 2017, LK Ara dan Ine Hidayah tampil dalam acara Malam Sastra Aceh bertajuk “80 Tahun LK Ara”. Kegiatan itu diadakan Penerbit Imaji bekerjasama dengan Boulevard Aceh Coffee, Pasaraya dan Ruang Sastra untuk menandai 80 tahun usia sastrawan LK Ara.

    Kegiatan itu diwarnai dengan peluncuran buku antologi sastra Jejak Kata. Buku setebal 150 halaman yang disusun Mustafa Ismail dan Willy Ana itu memuat puisi, prosa dan tulisan sastrawan dan seniman Indonesia tentang LK Ara.

    Para sastrawan dan seniman yang mengisi buku itu antara lain D Zawawi Imron, Rida K Liamsi, Ahmadun Yosi Herfanda, Eka Budianta, Rizaldi Siagian, Fikar W. Eda, Zulfaisal Putra, Wayan Jengki Sunarta, Dedy Tri Riyadi, Deni Kurnia, Sulaiman Juned, Sulaiman Tripa, Syarifuddin Arifin, Salman Yoga, Teuku Ahmad Dadek, Nurdin F Joes, dan lain-lain.

    Selain LK Ara dan Ine, sejumlah sastrawan dan undangan lainnya tampil membaca puisi dan memberi testimoni tentang LK Ara, seperti Eka Budianta, Jose Rizal Manua, Teuku Nausa, Fikar W Eda, Fajri Alihar, Iwan Kurniawan, Mustafa Ismail, Willy Ana, Pilo Poly, Bambang Widiatmoko, dan lain-lain.

    “LK Ara memberi inspirasi bagi anak muda bahwa berkarya itu tidak mengenal usia,” kata Teuku Nausa, yang juga pemilik Boulevard Aceh Coffee.

    Hal senada dikatakan Willy Ana, ketua panitia acara itu, bahwa LK Ara adalah salah satu penyair penting Indonesia, yang masih berkarya hingga usia 80 tahun saat ini. “Energi Pak Ara sangat mengagumkan, dan sangat menginspirasi kami generasi muda,” ujarnya.

    Penyair dan sutradara teater Jose Rizal Manua mengaku mengenal LK Ara sejak 1970-an, dan salah satu penyair sangat kreatif sepanjang usianya. “Saya mengoleksi semua buku-buku karya Pak Ara. Sangat menginspirasi,” ujar pimpinan Teater Tanah Air ini.

    Baca: Sastrawan Warnai Ramadan dengan Ngabuburit Sastra

    LK. Ara lahir di Aceh Tengah, 12 November 1937. Ia tak hanya menulis puisi, juga cerita, cerita rakyat, esai dan enskilopedi. Ia pun tekun mengumpulkan syair-syair tradisi seperti puisi didong dari Gayo dan pantun dari Bangka Belitung.

    Riwayat pekerjaannya cukup panjang. Ia pernah menjadi redaktur budaya Harian Mimbar Umum (Medan) dan pegawai Sekretariat Negara. Terakhir, dia bekerja di Balai Pustaka hingga pensiun (1963-1985). Saat bekerja di Balai Pustaka itulah, bersama sejumlah seniman lain, ia mendirikan Teater Balai Pustaka pada 1967.

    SAIFULLAH S


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pokemon Hidup Dalam Detektif Pikachu

    Hollywood baru saja mengadaptasi karakter favorit dunia dari kartun Pokemon, Pikachu, ke dalam film layar lebar.