Senin, 21 Mei 2018

Curahan Hati Rina Nose Setelah Lepas Hijab: Saya seperti Dihukum

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rina Nose. TABLOIDBINTANG.COM

    Rina Nose. TABLOIDBINTANG.COM

    TEMPO.CO, Jakarta -Rina Nose memutuskan melepas hijab. Sebelum melepaskan hijab yang selama ini sudah dipakainya, Rina mengaku telah berbicara dengan kedua orang tuanya. Ia mengaku beruntung memiliki orang tua yang sangat mengerti dan memahami dirinya.

    Baca: Rina Nose Lepas Hijab, Ini yang Membuatnya Sedih

    "Orang tua, keluarga, sudah tahu lama. Karena hal ini sudah aku diskusikan dengan orang tuaku juga, mereka menyerahkan semua keputusan ke aku. Mereka lebih paham cara berpikir aku. Kami saling menghargai setiap keputusan," kata Rina saat ditemui di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, Sabtu dinihari, 11 November 2017.

    Rina Nose menjelaskan, keputusan melepas hijab adalah keputusan sendiri, bukan pengaruh orang lain atau kontrak televisi.

    "Ini murni keputusan pribadi, bukan karena ada masalah di rumah atau apa. Saya tekankan di sini, saya tidak memiliki masalah apa pun. Mungkin gini, karena saya tidak memiliki masalah dan melakukan kegiatan rutin, pernahkah di antara kalian yang suka melakukan pertanyaan ke diri sendiri kenapa dilahirkan ke dunia?" ucap Rina.

    Rina juga membantah terlibat kontrak di stasiun televisi lain. "Enggak ada. Begini, ya, kalau ada yang mengamati aku dari awal berkarier dari sebelum 2006, mereka akan tahu karier aku tuh enggak ada yang tiba-tiba pluk naik, pluk turun. Enggak ada persoalan hidup, cuma memang yang dilihat masyarakat kan soal perceraian, soal tidak jadi menikah, akhirnya membuat kesimpulan sendiri."

    "Saya harus melucu, sementara saya seperti dihukum oleh pemikiran-pemikiran dari orang-orang yang berpikiran buruk kepada saya," tutur Rina Nose.

    TABLOIDBINTANG.COM


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Abdurrahman dan Abu Bakar Baasyir di Jaringan ISIS Indonesia

    Kelompok pendukung ISIS di Indonesia menjadikan Aman Abdurrahman sebagai pemimpin dan Abu Bakar Baasyir sebagai penasihat.