Rabu, 21 November 2018

Meneriakkan Aceh dari Kota ke Kota  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mesjid Raya Baiturrahman. TEMPO/Lourentius EP

    Mesjid Raya Baiturrahman. TEMPO/Lourentius EP

    TEMPO.CO, Jakarta - Mereka baru benar-benar berpisah, Senin dini hari, 19 November 2012. Di Surabaya, pagi itu, mereka kembali pada rencana masing-masing. Sebelumnya, Minggu malam, mereka sempat mampir di kantor Kontras Surabaya untuk berdiskusi, membaca puisi, membawakan musikalisasi puisi, juga melantunkan tembang dan puisi dalam bahasa Jawa.

    Kafilah Kebudayaan, begitulah nama rombongan seniman dari berbagai lapangan seni itu. Ada belasan orang yang terlibat dalam kafilah itu. Mereka adalah penyair, pemusik, perupa, fotografer, pelantun tembang Jawa, dan penggiat kebudayaan lainnya. Menggunakan dua mobil minibus yang penuh sesak, mereka singgah dari satu kota ke kota lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

    Kegiatan ini digerakkan oleh Komunitas Surau Kami, Semarang, Jawa Tengah. "Kami adalah rombongan kebudayaan, bukan rombongan kesenian," kata Guspar Wong, pimpinan kafilah itu. Disebut rombongan kebudayaan karena mereka tidak hanya tampil membawakan karya seni, tapi menyajikan gagasan-gagasan budaya. Maka itu, setiap tampil, selalu ada pengantar atau semacam orasi kebudayaan oleh anggota rombongan itu.

    Dalam misi itu, mereka meneriakkan persoalan Aceh. Gagasannya bertolak dari buku puisi penyair Aceh, Zubaidah Djohar, "Pulang Melawan Lupa" (2012). Buku ini berisi gugatan Penyair Zhu, begitu ia akrab disapa, terhadap beragam persoalan di Aceh, baik pada masa konflik maupun setelah konflik seperti tsunami, ekses-ekses penerapan syariat Islam, dan sebagainya.

    Pulang dalam kontek puisi itu adalah konsep kembali kepada diri sendiri, kepada kebenaran, kembali pada sebuah keharusan. Beragam persoalan yang terjadi di Aceh mengharuskan semua pihak kembali pada inti persoalan itu sendiri untuk menyelesaikannya. "Pulang adalah jalan untuk memecahkan persoalan," ujar Zhu, kandidat doktor yang aktivis perempuan ini.

    Sebelum menuju ke Surabaya, mereka singgah di Malang. Ada dua tempat yang mereka pilih di kota apel itu. Pertama, Sabtu malam, 17 November, mereka tampil dalam acara Music Camp Encompas di Wisma Gunung Tabor, Tumpang. Mereka membaca puisi dan membawa musikalisasi puisi diselingi para seniman Malang, peserta Music Camp serta sejumlah pemusik senior setempat.

    Esoknya, Minggu siang, 18 November, mereka berdiskusi dengan para mahasiswa, seniman Malang, dan aktivis di markas Indonesia Dragonfly Society (IDS) di Jalan Kediri, Malang. Dalam kesempatan itu, tak hanya para seniman yang membaca puisi atau membawa musikalisasi. Mahasiswa, wartawan, serta Direktur IDS Wahyu Sigit juga didaulat membaca puisi.

    Sebelumnya lagi, dalam rentetan perjalanan ini, mereka telah tampil di Jepara dan Madiun pada pekan sebelumnya. Surabaya adalah kota terakhir dalam sesi pertama misi itu. Sesi selanjutnya mereka akan mengunjungi sejumlah kota lain. "Kafilah Kebudayaan akan ditutup di Aceh pada Februari 2013," ujar Zhu.

    MUSTAFA ISMAIL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.